Immunohistochemical Study of the Laminin α5 Chain and Its Specific Receptor, Basal Cell Adhesion Molecule (BCAM), in both Fetal and Adult Rat Pituitary Glands

Laminin, a major basement membrane protein, comprises three subunit chains: α, β, and γ
chains. Among these chains, only the laminin α chain is capable of signaling via laminin
receptors. Although laminin isoforms containing the α5 chain were reported to be the first
laminin produced during rat anterior pituitary gland development, the functions of these
isoforms are unknown. We used immunohistochemical techniques to localize the laminin α5
chain and its specific receptor, basal cell adhesion molecule (BCAM), in fetal and adult
pituitary gland. Laminin α5 chain immunoreactivity was observed in the basement
membrane of the primordial adenohypophysis at embryonic days 12.5 to 19.5. Double
immunostaining showed that BCAM was present and co-localized with the laminin α5 chain
in the tissue. Quantitative analysis showed that the laminin α5 chain and BCAM were
expressed in the anterior pituitary gland during postnatal development and in adulthood
(postnatal day 60). In the adult gland, co-localization of the laminin α5 chain and BCAM was
observed, and BCAM was detected in both the folliculo-stellate cells and endothelial cells.
These results suggest that laminin α5 chain signaling via BCAM occurs in both the fetal
adenohypophysis and adult anterior pituitary gland.

ISOLASI PEKTIN DARI KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI PENGIKAT PADA SEDIAAN PASTA GIGI

Buah naga selain dikonsumsi dalam bentuk segar juga diolah menjadi beberapa produk olahan. Kulit buah naga mengandung pektin ±10,8%. Pada industri farmasi dan makanan, pektin digunakan sebagai pengikat, pembentuk gel, penstabil, dan pengental. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi pektin, mengkarakterisasi pektin dan mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi pektin sebagai bahan pengikat terhadap viskositas yang dihasilkan pada sediaan pasta gigi. Pektin yang dihasilkan dianalisa secara kualitatif menggunakan FTIR dan memenuhi persyaratan JEFCA ( Joint Expert Committee for Food Additives (FAO/WHO)) dengan nilai susut pengeringan 11,03%, kadar abu 0,41 %, berat ekivalen 617,29 mg dan kadar metoksi 6,50% . Pektin yang sudah dikarakterisasi dibuat pasta gigi dalam 4 formula dengan konsentrasi pektin sebesar 3%, 3,5%, 4% dan 4,5%, kemudian dievaluasi sifat fisiknya meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas dan sifat alir. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkat konsentrasi penggunaan pektin kulit buah naga maka semakin besar pula viskositas yang dihasilkan.

PENGGUNAAN KOMBINASI FOTOKATALIS TiO2 DAN ARANG AKTIF UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH FARMASI

Air limbah farmasi memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan. Air limbah tersebut
dicemari oleh zat kimia organik dan anorganik. Limbah antibiotik seperti misalnya
siprofloksasin dapat bersama-sama dengan limbah anorganik seperti ion Cu(II) di perairan.
Metode fotokatalisis menggunakan TiO2 telah terbukti berpotensi untuk mengatasi
pencemaran limbah dengan cara yang ramah lingkungan serta menghemat biaya. Arang aktif
merupakan media adsorpsi yang tepat untuk disisipkan katalis TiO2 karena dapat
menangkap dan menjerap partikel-partikel sangat halus, tidak bersifat racun, mudah didapat ,
ekonomis dan dapat meningkatkan aktivitas fotokatalitik dari TiO2 dengan memperluas
permukaan serta mencegah penggumpalan partikel dari TiO2. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh keberadaan arang aktif dan lama penyinaran terhadap efektivitas proses
fotodegradasi siprofloksasin yang terkatalisis TiO2 dengan keberadaan ion Cu(II). Metode
penelitian dilakukan dalam suatu reaktor tertutup yang dilengkapi dengan satu sdkkat
pengaduk magnetik dan lampu tungsten sebagai sumber sinar tampak. Variasi lama
penyinaran yang digunakan adalah 20, 40, 60, 80 dan 100 menit. Sedangkan massa
kombinasi TiO2 dengan Arang aktif yang digunakan adalah 25 :1, 30 : 1, dan 35 : 1. Metode
yang digunakan untuk mengetahui konsentrasi siprofloksasin adalah Spektrofotometri Ultra
Violet dan konsentrasi ion Cu(II) menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom. Hasil
penelitian menunjukan adanya pengaruh variasi lama penyinaran dan variasi massa TiO2 dan
arang aktif pada fotodegradasi siprofloksasin dan fotoreduksi ion Cu(II). Kondisi optimal
lama penyinaran pada proses fotodegradasi siprofloksasin dan fotoreduksi ion Cu(II) adalah
100 menit dan dengan variasi TiO2 kombinasi Arang Aktif adalah 35 : 1, pada kondisi tersebut
siprofloksasin yang terdegradasi 82,18 % dan ion Cu(II) yang tereduksi 89,83 %.

Gambaran Pelaporan Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) Berdasarkan Faktor Manusia dan Organisasi/Manajemendi Instalasi Gizi Rumah Sakit

Keamanan makanan (food safety) adalah aspek penting keselamatan pasien dalam pelayanan gizi kepada
pasien di ruang perawatan. Kejadian Nyaris Cedera (KNC) dan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) pada
pelayanan gizi dapat berakibat kematian kepada pasien.Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran
pelaporan KNC dan KTD di suatu unit Instalasi Gizi di Rumah Sakit Ibu Anak, Jakarta.Disain penelitian
adalah epidemiologi deskriptif.Pengumpulan data melalui kuesioner yang diberikan kepada seluruh
karyawan suatu Instalasi Gizi Rumah Sakit Ibu Anaksejumlah 35 orang pada tahun 2014. Analisis data
dilakukan secara deskriptif. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat 46 % pegawai Instalasi Gizi RS Xyang
melaporkan pernah melakukan KNC/KTD.Untuk faktor manusia, kejadian KNC dan KTD dilaporkan oleh
sebagaian besar pegawai dengan kompetensi tinggi (81,2%), pendidikan terakhir D3/S1 (56,2 %), beban
kerja berat (56,2 %), sikap kurang baik (56,2 %), dan motivasi tinggi (68,7%). Sementara tidak ada perbedaan
proporsi kelompok pegawai dengan masa kerja kurang atau lebih dari 5 tahun dalam melaporkan kejadian
KNC dan KTD. Untuk faktor organisasi/manajemen, kelompok pegawai yang melaporkan terjadinya
KNC dan KTD merupakan kelompok pegawai yang menilai kepemimpinan yang kurang baik (56,2%),
kondisi kebijakan/prosedur yang ada sudah sesuai (75,0%), kerjasama tim yang kurang baik (56,2%), dan
komunikasi yang baik (68,7%). Sementara tidak ada perbedaan proporsi pelaporan kejadian KNC/KTD
dari sisi variabel peralatan dan lingkungan fsik. Kejadian KNC/KTD dilaporkan oleh pegawai dengan
kompetensi tinggi, pendidikan terakhir D3/S1, dengan beban kerja berat, sikap kurang baik, motivasi
tinggi, kepemimpinan kurang baik, dan komunikasi yang baik.

Antena dan Propagasi Gelombang

uku Antena dan Propagasi Gelombang merupakan buku pengantar yang disajikan untuk perguruan tinggi dan pemerhati bidang antena dan propagasi gelombang. Buku ini juga disertai pembahasan beberapa soal – soal sebagai latihan bagi mahasiswa dan peneliti lainnya. Pada pada jilid ke satu ini, topik pembahasan pada buku ini masih terbatas pada dasar antena, efisiensi antena, dasar saluran transmisi antena, polarisasi antena, penyetaraan luas antena, persamaan jarak dan bagian melintang pada radar, penentuan medan radiasi serta antena kawat.

7.1.4. 1 HAKI 2 BDH 01

7.1.4. 1 HAKI 2 BDH 01 http://repository.uhamka.ac.id/1195/ http://repository.uhamka.ac.id/1195/1/7.1.4.%201%20HAKI%202%20BDH%2001.pdf Download Disini !

7.1.4.2 HAKI 1 BDH 02

7.1.4.2 HAKI 1 BDH 02 http://repository.uhamka.ac.id/1196/ http://repository.uhamka.ac.id/1196/1/7.1.4.2%20HAKI%201%20BDH%2002.pdf Download Disini !

7.1.4.3 HAKI Dr. Sunarta

7.1.4.3 HAKI Dr. Sunarta http://repository.uhamka.ac.id/1197/ http://repository.uhamka.ac.id/1197/1/7.1.4.3%20HAKI%20Dr.%20Sunarta.pdf Download Disini !

3.4.2.2 foto alumni 37 buku

3.4.2.2 foto alumni 37 buku http://repository.uhamka.ac.id/1157/ http://repository.uhamka.ac.id/1157/1/3.4.2.2.%20Surat%20alumni%2037.jpg Download Disini !