Penggunaan Band Stop Filter pada Attenuator banyak digunakan karena rentang frekuensi attenuasi yang besar, serta perhitungan komponen yang tidak rumit. Penggunaan dioda pada rangkaian digunakan sebagai pemotong level tegangan pada sisi rangkaian pararel dan penahan arus DC pada sisi rangkaian serial. Model tipe π digunakan dengan cara pemberian arus pada baterai agar dapat memberikan level attenuasi yang besar. Rangkaian didalam attenuator ini menggunakan komponen pasif dimana komponen yang digunakan adalah sebuah dioda sebagai penyearah, kapasitor, resistor dan induktansi dan lain-lain. Metode pembuatan alat ini dengan cara merancang sebuah rangkaian yang telah ditentukan nilai komponennya. Di dalam pengujian alat ini digunakan sebuah spectrum analyzer atau function generator untuk melihat frekuensi gelombang radio yang sudah diredam.
Tag: jakarta
Peran Sistem Informasi Berbasis TIK dalam Upaya Membangun Good University Governance
Membangun Perguruan Tinggi Yang Unggul dan Kompetitif bukanlah hal yang mudah, akan tetapi perguruan tinggi manapun akan dapat mencapainya apabila mampu membangun tata kelola yang baik (Good University Givernance), maka membangun GUG merupakan sebuah keniscayaan. Secara umum tata kelola terkait dengan aspek transparansi, akuntabilitas, Responsivitas, kepemimpinan, komitmen dan efisiensi dan efektifitas. Namun tata kelola menjadi persoalan lebih pelik, manakala tuntutan tata
kelola yang baik mengharuskan adanya perubahan dan inovasi dari sistem yang ada dalam mencapai visi dan misi Perguruan Tinggi. Sistem Informasi berbasis TIK adalah salah satu solusi untuk dapat mewujudkan Transparansi, efisiensi, efektifitas dan akuntabilitas Perguruan Tinggi. Sistem Informasi yang handal akan dapat memberikan layanan yang cepat, tepat dan akurat sehingga dapat memberikan kepuasan kepada masyarakat khususnya sivitas akademika. Untuk mencapai tata kelola yang baik, kadang-kadang diperlukan suatu gerakan perubahan budaya organisasi secara simultan, yaitu gerakan yang mampu mengubah
semua kelemahan dan ketidakberdayaan organisasi menjadi lebih handal dan produktif. Dengan demikian, diperlukan reorganisasi dan pemberdayaan di semua lini organisasi, sehingga dengan tata kelola yang baik akan dapat dicapai kesuksesan organisasi sebagaimana yang dicita-citakan.
Kajian Perhitungan dan Penerapan Algoritma RSA pada Proses Pengamanan Data
Algoritma RSA merupakan salah satu kriptografi asimetri, yang menggunakan dua kunci berbeda yaitu kunci public (public key) dan kunci pribadi (private key). Kunci publik bersifat tidak rahasia sedangkan kunci pribadi bersifat rahasia. Dalam kriptografi asimetri, dua kunci tersebut diatur sehingga memiliki hubungan dalam suatu persamaan aritmatika modulo. Dalam dunia kriptografi terdapat dua profesi, yakni kriptografer dankriptanalis. Seorang kriptografer akan berusaha untuk menciptakan algoritma kriptografi sekompleks mungkin, sedangkan seorang kriptanalis akan berusaha untuk memecahkan algoritma tersebut agar dapat mengetahui pesan yang dirahasiakan. Kriptanalis berperan sebagai penguji dari suatu algoritma kriptografi atau menjadi penyerang untuk mengetahui informasi rahasia yang sesungguhnya tidak berhak untuk ia ketahui. Suatu serangan dapat digolongkan sebagai serangan pasif, yakni serangan yang tidak merubah isi dari pesan, atau serangan aktif, yang dapat mengubah isi dari suatu pesan. Meskipun kriptografi asimetri menggunakan kunci publik yang dapat melewati saluran tanpa pengamanan, namun bukan berarti kriptografi ini tidak bebas dari serangan. Metode timing attacks memanfaatkan proses perhitungan suatu kunci, sehingga jika terdapat suatu kebocoran selama pemrosesan, maka informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui kunci pribadi yang digunakan. Pencegahan terhadap timing attacks dapat dilakukan dengan cara memodifikasi persamaan aritmatika modulo yang digunakan, sehingga menambah kompleksitas dari perhitungan. Pada makalah ini akan dibahas bagaimana algoritma RSA diterapkan dan diaplikasikan serta pencegahannya terhadap adanya timing attacks.
PENDIDIKAN HOLISTIK DALAM PEMBELAJARAN IPS DI SMP/MTs
Pola pendidikan di Indonesia terbentuk melalui sejarah yang panjang. Dimulai pada
jaman Hindu-Buddha sampai penjajahan Jepang, pola pendidikan yang terbentuk
hampir sama yaitu guru dianggap sebagai orang yang sangat dimuliakan karena peran
guru diambil oleh kaum Brahmana (jaman Hindu-Buddha), ustad/ajengan (jaman
perkembangan agama Islam), pemuka agama Katolik Roma (jaman penjajahan
Portugis), tokoh agama Protestan (jaman penjajahan Belanda) dan tokoh pribumi
yang dianggap berpengaruh (jaman penjajahan Jepang).
Namun pola tersebut sudah tidak dapat diterapkan karena guru bukan satu-satunya
sumber informasi pada saat peserta didik belajar. Belajar juga bukan lagi hanya
belajar di dalam kelas tapi juga diluar kelas dengan mengembangkan aspek kognitif,
afektif dan psikomotor serta soft skills.
Tujuan pembuatan tulisan ini adalah untuk merevitalisasikan kembali pembelajaran
sejarah diperlukan agar peserta didik tidak hanya hapal tapi justru memahami esensi
belajar sejarah itu sendiri melalui pendidikan yang holistik (menyeluruh). Peserta
didik harus tahu bahwa hidup mereka sekarang ini karena jasa para pahlawan bangsa
yang sudah memperjuangkan kemerdekaan. Tentu saja bukan hal yang mudah
ditengah budaya yang berkembang sekarang ini.
Pendidikan holistik merupakan sebuah perjalanan pendidikan untuk aktualisasi diri
dan realisasi diri melalui hubungan dan keterkaitan antara individu, kelompok dan
dunia sehingga terintegrasi satu sama lain. Pendidikan formal hanyalah titik awal dari
proses seumur hidup.
KEMISKINAN PEREMPUAN DAN RENTENIR DI PERKOTAAN SERTA PENANGGULANGANNYA
Para peneliti kemiskinan telah memiliki konsensus bahwa permasalahan kemiskinan
adalah permasalahan yang multidimensional. Penjelasan mengenai kemiskinan pada
Copenhagen Programme of Action of the World Summit for Social Development tahun 1995
yang menyebutkan bahwa kemiskinan mempunyai berbagai wujud, termasuk kurangnya
pendapatan dan sumber daya produktif yang memadai untuk menjamin kelangsungan hidup;
kelaparan, dan kekurangan gizi; kesehatan yang buruk; keterbatasan akses pendidikan dan
pelayanan dasar lainnya; peningkatan morbiditas dan peningkaan kematian akibat penyakit;
tunawisma dan perumahan yang tidak memadai; lingkungan yang tidak aman; dan
diskriminasi sosial dan pengucilan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menambahkan
kemiskinan dicirikan oleh kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan dan dalam
kehidupan sipil, sosial, dan budaya (Barrientos, 2010 dalam (Badan Pendidikan dan
Penelitian Kesejahteraan Sosial, 2012, hal. 1)).
IMPLEMENTASI PENGEMBANGAN PROFESIONALISME BAGI GURU BERSERTIFIKAT PENDIDIK
Kompetensi guru profesional meliputi kemampuan guru mengenal peserta didik yang
dilayaninya secara mendalam, menguasai bidang studi secara keilmuan dan kependidikan
dalam hal mengemas materi pembelajaran, kemampuan menyelenggarakan pembelajaran
yang mendidik mulai dari perancangan sampai pemanfaatan hasil penilaian terhadap proses
dan hasil pembelajaran serta pengembangan profesionalitas yang berkelanjutan. Namun
beberapa hasil penelitian memperlihatkan motivasi guru untuk segera ikut sertifikasi
bukanlah untuk meningkatkan profesionalime atau kompetensi mereka tetapi terkesan
semata-mata untuk mendapatkan tambahan penghasilan melalui tunjangan profesi. Penulisan
makalah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi guru yang
bersertifikat pendidik, pengembangan profesionalisme guru di sekolah serta implementasi
Pengembangan Profesionalisme Guru. Metode yang digunakan adalah studi kasus sehingga
memperoleh deskripsi yang utuh dan mendalam dari sebuah permasalahan. Hasil temuan
berdasarkan penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa guru belum optimal dalam
mengembangkan profesionalismenya, sehingga diperlukan pendekatan model kebijakan yang
komprehensip mulai tingkat sekolah sampai ke kementrian sehingga dengan beban kerja yang
ada masih tetap mampu mengembangkan profesionalismenya.
ROLE OF FAMILY ENVIRONMENT IN CHARACTER DEVELOPMENT
Family environment as the environment is known first and foremost a child has a decisive role in helping
the development of his personality. One effort is the essential meaning is to invite the children to enable
themselves with moral values to have and develop the basics of character development. These efforts
demonstrate the need for the position and responsibilities of parents. Help parents in laying the
foundations and development in the character formation of children is to create conditions that encourage
children to have the basics of good character and in its development involves two subjects namely
parents as educators and children as the educated. This paper comprehensively want to see how the
character formation of children in the family environment seen from the pattern adopted by foster parents,
with the approach of descriptive analytical method. Thus the character that develops in children can be
seen from the pattern adopted by foster parents in the home.
NASIONALISME PEMUDA DALAM PERUBAHAN SOSIAL
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melihat bagaimana perubahan nasionalisme pemuda dalam perubahan sosial. Nasionalisme terancam retak oleh krisis-krisis yang menyeruak: krisis moneter, krisis moral, krisis sosial, krisis politik, krisis kebangsaan dan sebagainya. Krisis yang berkepanjangan tersebut antara lain disebabkan oleh berbagai masalah sosial kemasyarakatan seperti pertentangan politik, etnik, sosial budaya dan merebaknya sikap, perilaku permisif terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme yang berlangsung lama. Metode penulisan yang dipergunakan adalah metode deskriptif analitis.
Perubahan cara pandang pemuda tentang nasionalisme terjadi karena adanya perubahan-perubahan dalam kehidupan terutama dalam kehidupan sosial. Perubahan yang terjadi dari tahun ke tahun sedemikian cepat sehingga mempengaruhi pola pikir dan sikap pada masyarakat yang mengalami perubahan tersebut. Dalam pengertian yang sangat luas perubahan sosial didefinisikan sebagai perubahan penting dari struktur sosial dan yang dimaksud dengan struktur sosial adalah pola-pola perilaku dan interaksi sosial.
BAHASA INDONESIA DAN NASIONALISME TIDAK PERNAH MATI: PERSPEKTIF EMPIRIS-HISTORIS
Banyak kajian dan hasil penelitian yang menyebutkan bahwa nasionalisme di
Indonesia telah pudar seiring dengan perubahan jaman yang memandang
nasionalisme adalah peristiwa masa lalu yang sudah tidak relevan dengan kondisi
bangsa saat ini. Hal tersebut sebenarnya kurang tepat karena nasionalisme tidak
pernah padam pada satu bangsa termasuk bangsa Indonesia. Ketika pemilihan
Presiden 2014 di Indonesia, para Capres berlomba untuk memunculkan tokoh masa
lalu seperti Soekarno yang terkenal dengan semangat nasionalismenya. Perjuangan
Soekarno pada masa mudanya untuk keluar masuk tahanan hanya untuk
mempertahankan negara Indonesia menjadi salah satu contoh kecil perjuangannya.
Peristiwa Sumpah Pemuda yang menyatakan bertanah air, berbangsa dan berbahasa
satu yaitu bahasa Indonesia mulai dimunculkan kembali. Nasionalisme jangan
dilihat dalam pemahaman yang sempit. Mestinya menjadi Elan Vital suatu bangsa
sebagai daya pemersatu bagi kemajuan peradaban yang mengarah kepada nation
state. Perjuangan bangsa Indonesia dalama arti fisik melawan penjajah memang
sudah berakhir tapi perjuangan itu sudah berubah bentuk strategi karena berbeda
situasi dan kondisi. Hal ini terkait dengan kondisi bangsa Indonesia yang sangat
beragam dalam berbagai corak kehidupan. Perbedaan justru menjadi berkah dan
pelangi yang indah bagi Bangsa Indonesia. Melalui kajian empiris dan perspektif
sejarah dengan menggunakan metode analisis deskriptif, maka dapat dilihat bahwa
bahasa Indonesia semakin berkembang seiring dengan semangat nasionalisme di
Indonesia.
ANALISIS HUBUNGAN PRODUKSI, VOLUME KONSUMEN, IMPOR GULA PASIR DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEMPATAN KERJA DI INDONESIA
Masalah yang dihadapi di Indonesia dari beberapa priode yang lalu hingga saat ini: pertumbuhan angkatan kerja yang tidak seimbang dengan pertumbuhan kesempatan kerja mengakibatkan pengangguran dan kemiskinan cukup tinggi. Industri pengolahan khususnya industri gula pasir sangat potensial dikembangkan. dengan, konsep agar dapat meningkatkan ekspor dan menurunkan impor sehingga dapat berdampak terhadap kesempatan kerja, tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan di Indonesia. Dari data – data hasil pengamatan penduduk pada tahun 2008 sampai tahun 2010 semakin meningkat, data pengangguran tahun 2008 sampai tahun 2010 semakin menurun tetapi masih cukup tinggi, data penduduk miskin tahun 2007 sampai tahun 2009 semakin menurun tetapi masih cukup tinggi, data penduduk yang bekerja pada industri pengolahan tahun 2007 sampai tahun 2009 semakin meningkat sedangkan data dari tahun 2001 sampasi tahun 2009 volume produksi semakin meningkat, tingkat konsumsi semakin meningkat dan impor juga cukup tinggi manunjukkan bahwa produksi gula pasir belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri masih harus mengimpor berkisai rata-rata ± 50 % setiap tahun atau dapat juga disimpulkan bahwa neraca perdagangan khususnya komoditi gula pasir di Indonesia berada dalam keadaan sangat pasif atau perekonomian tidak menguntungkan karena nilai impor masih jauh lebih tinggi dari pada ekspor. Hasil analisis data pada tahun 2009 angka kesempatan kerja pada industri pengolahan sebesar 10,88 %, pada tahun 2010 mengenai angka kesempatan keja = 92,59 %, tingkat penyerapan angkatan kerja 77,96 %, angka partisipasi angkatan kerja 67,83 %, angka pengangguran 7,41 %, angka kesempatan kerja pada industry gula pasir 0,06 % masing-masing dari jumlah penduduk Indonesia. Data lahan tidak poduktif masih cukup luas bisa untuk perkebunan tebu. Dengan data-data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sangat potensial di kembangkan investasi industri gula pasir di Indonesia sehingga mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, bisa meningktkan ekspor, menurunkan impor gula pasir yang sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan kesempatan kerja, penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan di Indonesia.